Pesembahan
untuk kakak asistenku yang tercinta,
Kak
Nurul Fatwa
Kedua
orang tuaku,
Bapak
Dayat dan Ibu Neneng Anengsih
Adik
ku, De Itang Rahmat Hidayat dan
Nuri
Septrianti
Sahabat-sahabat
terkasihku…
dan
semua Muslimah Cantik
yang
merindu dan dirindukan surga…
Lingkaran
yang Bertabur Bintang
Persaudaraan.
Suatu kata yang mampu menyatukan hati beberapa insan di dunia. Tanpa adanya
persaudaraan, dunia ini pastilah kacau balau tanpa aturan. Tidak ada rasa
cinta, kasih sayang, saling peduli, dan semisalnya. Di dalam Islam pun ada
istilah yang sama dengan persaudaraan, yaitu Ukhuwah Islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah
(persaudaraan Islam) adalah keterikatan hati dan jiwa atu sama lain dengan
ikatan aqidah. Ukhuwah Islamiyah pun memiliki tahapan: ta’aruf (saling
mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling membantu
dan menolong), dan (saling memikul beban). Ahh…Islam itu memang begitu
indah, sehingga sangat menjunjung tinggi ukhuwah (persaudaraan).
Hatiku bertanya-tanya, sudah sampai manakah
tahap ukhuwah islamiyah yang telah kami lalui di lingkaran asistensi
PAI? Kalau saling mengenal, kami sudah kenal sejak awal masuk kuliah. Kalau
saling memahami, karena saling bersama, mau tidak mau kami juga mulai mengenal
satu sama lain. Lalu, apakah kami sudah saling membantu dan memikul beban satu
sama lain? Ahhh…biarkan saja waktu yang menjawab. Bukankah semua itu
merupakan tahapan yang membutuhkan proses di dalamnya? So, enjoy it!
=)
“Assalamu’alaikum
adik-adik. Bagaimana kabar hari ini?” tiba-tiba kakak pembimbing asistensi
bertanya kepada kami. Aku terhenyak kaget, keluar dari lamunanku.
“Alhamdulillah,
luar biasa, AllahuAkbar.” Begitulah
jawaban kami.
“Syukur
Alhamdulillah apabila begitu. Siapa hari ini yang menjadi tugas moderator
dan tausyiah?”
“Ilmi
yang tausyiah dan Ani jadi moderator, Kak.” Jawab Ayu, yang saat ini sedang
memegang amanah sebagai ketu kelompok.
“Ya
silahkan dimulai, Ani.”
Temanku
yang bertugas menjadi moderator pun membuka kegiatan asistensi hari ini.
Asistensi hari ini sangat luar biasa, wajah-wajah para mujahidah ini
sungguh cerah-ceria seakan tak memiliki beban sedikit pun. Ahhh…teman,
aku selalu nyaman bila berada di lingkaran ini.
Moderator mempersilahkan kami untuk tilawah
sebanyak lima ayat masing-masing individu. Lantunan ayat-Nya begitu mesra di pendengaran
ini, surat cinta dari-Nya yang tak akan pernah ada tandingannya.
Tilawah pun telah selesai dan petugas
tausyiah yang menjalankan amanahnya untuk menyampaikan materi atau cerita
inspirasi. Biasanya kami hanya mampu menyampaikan cerita yang menginspirasi.
“Cukup
sekian cerita dari saya, mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan.” Ilmi
menutup tausyiahnya dengan wajah yang cerah. Subhanallah, lingkaran ini
selalu menciptakan keceriaan tersendiri.
“Terimakasih
kepada Ilmi yang sudah menyampaikan tausyianya. Sekarang kita kembalikan kepada
kak Fatwa yang akan menyampaikan materinya.” Ungkap Ayu.
“Baiklah,
terimakasih Ayu atas waktunya. Hari ini kakak ingin meminta adik-adik untuk
mengeluarkan secarik kertas dan isi nama juga ya.” Intruksi kak Fatwa.
“Kak,
mau ujian?” salah satu dari kami bertanya dengan wajah cemas.
“Bukan
adikku, tapi kakak ingin kalian menuliskan proposal hidup masing-masing. Apa sih
yang ingin kalian capai beberapa tahun ke depan nanti.”
“Oh
begitu ya kak. Dikira mau kuis. Hhee.:”
Aaahhh,
emang ya anak-anak ini selalu saja khawatir kalau berhadapan dengan yang
namanya kuis dadakan. (*ketahuan gak pernah belajar) hihi,,=)
Kami
pun segera mengeluarkan secarik kertas dan diberi nama. Lalu mencatat semua
impian yang akan kami raih di masa depan sana.
“Sudah
ditulis semuanya? Kakak minta, nanti dari masing-masing menjelaskan mimpi
kalian, tapi satu mimpi saja yang benar-benar membutuhkan perjuangan yang keras
dari diri kalian. Silahkan mulai dari sebelah kanan kakak.” Kebetulan yang berada disebelah kanan kak
Fatwa yaitu Jihan.
“Kalau
aku mimpinya ingin menjadi seorang consultant professional kak. Tapi
seiring banyaknya persaingan di luar sana, aku harus terus berjuang supaya
mampu lebih baik dari mereka.”
“Subhanallah.
Cita-cita yang luar biasa. Terus lanjutkan yang di sebelahnya.”
“Kalau
saya ingin menjadi wirausaha yang sukses supaya bisa membantu orang-orang yang
tidak mampu di luar sana. Saya tidak mau melihat orang yang kesusahan karena
masalah ekonomi. Maka dari itu saya harus belajar dengan giat dan berdo’a
supaya mimpi saya dikabulkan oleh Allah.” Jelas Indah.
“Subhanallah.
Cita-cita yang mulia, semoga Allah mengabulkan keinginanmu. Dik. Kakak salut
sama kamu. Ya sudah, lanjut terus.”
Aiih,
sekarang giliranku nih yang harus memaparkan mimpi-mimpi yang ingin
dicapai.
“Kalau
aku suatu saat nanti ingin menjadi seorang penulis. Aku ingin membuat sesuatu
yang bermanfaat untuk orang banyak. Berdakwah lewat sebuah tulisan dan menjadi
amal jariyyah setelah aku meninggal kelak. Aku ingin mengukir nama dalam
sebuah karya. Do’akan aku ya teman-teman.”
“Atin
ingin jadi seorang penulis? Kakak dukung ya, semoga Allah mewujudkannya. Aamiin.”
Kami
meceritakan impian-impian yang ingin di raih. Ada yang ingin menjadi dosen,
kuliah S2 di luar negeri, dan lain sebagainya yang merupakan mimpi-mimpi yang
hebat.
“Terimakasih
untuk adik-adikku tercinta atas ceritanya. Kalau boleh tau sekarang jam berapa?
Soalnya jam setengah satu kakak ada kuliah lagi.”
“Jam
12.10 WIB, Kak.”
“Berarti
masih ada sisa waktu 20 menit lagi ya.”
Di sisa waktu yang cukup singkat, Kak
Fatwa menjelaskan materi asistensinya. Begitu semangat dan kami pun ikut
tenggelam dalam semangat yang di keluarkan oleh kakaknya.
Waktu
telah menunjukkan pukul setengah satu dan saatnya kami harus menutup kegiatan
asistensi hari ini. Moderator sudah siap menutup forum.
“Karena
waktu yang telah memisahkan, kegiatan asistensi hari ini cukup sekian dahulu
dan mari ucapkan hamdallah bersama-sama, ucapkan istighfar
sebanyak-banyaknya, lalu di tutup dengan do’a penutup majelis. Akhirulkallam,
wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabbarokatuh.”
Kegiatan asistensi pun berakhir dan kami
saling bersalaman satu ama lain. Hari ini sangat luar biasa. Apabila setelah
melingkar, pastilah semangat untuk hidup lebih baik lagi selalu saja muncul
dalam diri ini. Keceriaan dan persaudaraan kami semkin terasa kuat dan kokoh.
Sahabatku…
raihlah dan rasakanlah deru luar biasa dari makna sahabat! Jangan pernah menyia-nyiakan
sosok mereka di sekitar kita. Bisa jadi, karena mereka kita bisa masuk ke surga
Allah swt. Jadikanlah meraka ladang yang dapat menjadikan kita menuai banyak
pahala. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kita. Hargai dan hormatilah
mereka layaknya mereka mencintai kita. Bantulah mereka ketika sulit seperti
uluran tangan yang mereka berikan di waktu kita susah. Tutuplah aib mereka
seperti mereka yang selalu setia menjaga seluruh rahasia kita. Wallahualam
bissawab.
SELESAI
ciee atin,.. :)
BalasHapusApa Aris? :P
BalasHapus