Minggu, 02 Februari 2014

Lingkaran yang Bertabur Bintang



Pesembahan untuk kakak asistenku yang tercinta,
Kak Nurul Fatwa
Kedua orang tuaku,
Bapak Dayat dan Ibu Neneng Anengsih
Adik ku, De Itang Rahmat Hidayat dan
Nuri Septrianti
Sahabat-sahabat terkasihku…
dan semua Muslimah Cantik
yang merindu dan dirindukan surga…





Lingkaran yang Bertabur Bintang
            Persaudaraan. Suatu kata yang mampu menyatukan hati beberapa insan di dunia. Tanpa adanya persaudaraan, dunia ini pastilah kacau balau tanpa aturan. Tidak ada rasa cinta, kasih sayang, saling peduli, dan semisalnya. Di dalam Islam pun ada istilah yang sama dengan persaudaraan, yaitu Ukhuwah Islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah keterikatan hati dan jiwa atu sama lain dengan ikatan aqidah. Ukhuwah Islamiyah pun memiliki tahapan: ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling membantu dan menolong), dan (saling memikul beban). Ahh…Islam itu memang begitu indah, sehingga sangat menjunjung tinggi ukhuwah (persaudaraan).
Hatiku bertanya-tanya, sudah sampai manakah tahap ukhuwah islamiyah yang telah kami lalui di lingkaran asistensi PAI? Kalau saling mengenal, kami sudah kenal sejak awal masuk kuliah. Kalau saling memahami, karena saling bersama, mau tidak mau kami juga mulai mengenal satu sama lain. Lalu, apakah kami sudah saling membantu dan memikul beban satu sama lain? Ahhh…biarkan saja waktu yang menjawab. Bukankah semua itu merupakan tahapan yang membutuhkan proses di dalamnya? So, enjoy it! =)
            Assalamu’alaikum adik-adik. Bagaimana kabar hari ini?” tiba-tiba kakak pembimbing asistensi bertanya kepada kami. Aku terhenyak kaget, keluar dari lamunanku.
            Alhamdulillah, luar biasa, AllahuAkbar.” Begitulah  jawaban kami.
            “Syukur Alhamdulillah apabila begitu. Siapa hari ini yang menjadi tugas moderator dan tausyiah?”
            “Ilmi yang tausyiah dan Ani jadi moderator, Kak.” Jawab Ayu, yang saat ini sedang memegang amanah sebagai ketu kelompok.
            “Ya silahkan dimulai, Ani.”
            Temanku yang bertugas menjadi moderator pun membuka kegiatan asistensi hari ini. Asistensi hari ini sangat luar biasa, wajah-wajah para mujahidah ini sungguh cerah-ceria seakan tak memiliki beban sedikit pun. Ahhh…teman, aku selalu nyaman bila berada di lingkaran ini.
Moderator mempersilahkan kami untuk tilawah sebanyak lima ayat masing-masing individu. Lantunan ayat-Nya begitu mesra di pendengaran ini, surat cinta dari-Nya yang tak akan pernah ada tandingannya.
Tilawah pun telah selesai dan petugas tausyiah yang menjalankan amanahnya untuk menyampaikan materi atau cerita inspirasi. Biasanya kami hanya mampu menyampaikan cerita yang menginspirasi.
            “Cukup sekian cerita dari saya, mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan.” Ilmi menutup tausyiahnya dengan wajah yang cerah. Subhanallah, lingkaran ini selalu menciptakan keceriaan tersendiri.
            “Terimakasih kepada Ilmi yang sudah menyampaikan tausyianya. Sekarang kita kembalikan kepada kak Fatwa yang akan menyampaikan materinya.” Ungkap Ayu.
            “Baiklah, terimakasih Ayu atas waktunya. Hari ini kakak ingin meminta adik-adik untuk mengeluarkan secarik kertas dan isi nama juga ya.” Intruksi kak Fatwa.
            “Kak, mau ujian?” salah satu dari kami bertanya dengan wajah cemas.
            “Bukan adikku, tapi kakak ingin kalian menuliskan proposal hidup masing-masing. Apa sih yang ingin kalian capai beberapa tahun ke depan nanti.”
            Oh begitu ya kak. Dikira mau kuis. Hhee.:”
Aaahhh, emang ya anak-anak ini selalu saja khawatir kalau berhadapan dengan yang namanya kuis dadakan. (*ketahuan gak pernah belajar) hihi,,=)
            Kami pun segera mengeluarkan secarik kertas dan diberi nama. Lalu mencatat semua impian yang akan kami raih di masa depan sana.
                “Sudah ditulis semuanya? Kakak minta, nanti dari masing-masing menjelaskan mimpi kalian, tapi satu mimpi saja yang benar-benar membutuhkan perjuangan yang keras dari diri kalian. Silahkan mulai dari sebelah kanan kakak.”  Kebetulan yang berada disebelah kanan kak Fatwa yaitu Jihan.
            “Kalau aku mimpinya ingin menjadi seorang consultant professional kak. Tapi seiring banyaknya persaingan di luar sana, aku harus terus berjuang supaya mampu lebih baik dari mereka.”
            Subhanallah. Cita-cita yang luar biasa. Terus lanjutkan yang di sebelahnya.”
            “Kalau saya ingin menjadi wirausaha yang sukses supaya bisa membantu orang-orang yang tidak mampu di luar sana. Saya tidak mau melihat orang yang kesusahan karena masalah ekonomi. Maka dari itu saya harus belajar dengan giat dan berdo’a supaya mimpi saya dikabulkan oleh Allah.” Jelas Indah.
            Subhanallah. Cita-cita yang mulia, semoga Allah mengabulkan keinginanmu. Dik. Kakak salut sama kamu. Ya sudah, lanjut terus.”
Aiih, sekarang giliranku nih yang harus memaparkan mimpi-mimpi yang ingin dicapai.
            “Kalau aku suatu saat nanti ingin menjadi seorang penulis. Aku ingin membuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Berdakwah lewat sebuah tulisan dan menjadi amal jariyyah setelah aku meninggal kelak. Aku ingin mengukir nama dalam sebuah karya. Do’akan aku ya teman-teman.”
            “Atin ingin jadi seorang penulis? Kakak dukung ya, semoga Allah mewujudkannya. Aamiin.
            Kami meceritakan impian-impian yang ingin di raih. Ada yang ingin menjadi dosen, kuliah S2 di luar negeri, dan lain sebagainya yang merupakan mimpi-mimpi yang hebat.
            “Terimakasih untuk adik-adikku tercinta atas ceritanya. Kalau boleh tau sekarang jam berapa? Soalnya jam setengah satu kakak ada kuliah lagi.”
            “Jam 12.10  WIB, Kak.”
            “Berarti masih ada sisa waktu 20 menit lagi ya.”
Di sisa waktu yang cukup singkat, Kak Fatwa menjelaskan materi asistensinya. Begitu semangat dan kami pun ikut tenggelam dalam semangat yang di keluarkan oleh kakaknya.
            Waktu telah menunjukkan pukul setengah satu dan saatnya kami harus menutup kegiatan asistensi hari ini. Moderator sudah siap menutup forum.
            “Karena waktu yang telah memisahkan, kegiatan asistensi hari ini cukup sekian dahulu dan mari ucapkan hamdallah bersama-sama, ucapkan istighfar sebanyak-banyaknya, lalu di tutup dengan do’a penutup majelis. Akhirulkallam, wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabbarokatuh.”
Kegiatan asistensi pun berakhir dan kami saling bersalaman satu ama lain. Hari ini sangat luar biasa. Apabila setelah melingkar, pastilah semangat untuk hidup lebih baik lagi selalu saja muncul dalam diri ini. Keceriaan dan persaudaraan kami semkin terasa kuat dan kokoh.
            Sahabatku… raihlah dan rasakanlah deru luar biasa dari makna sahabat! Jangan pernah menyia-nyiakan sosok mereka di sekitar kita. Bisa jadi, karena mereka kita bisa masuk ke surga Allah swt. Jadikanlah meraka ladang yang dapat menjadikan kita menuai banyak pahala. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kita. Hargai dan hormatilah mereka layaknya mereka mencintai kita. Bantulah mereka ketika sulit seperti uluran tangan yang mereka berikan di waktu kita susah. Tutuplah aib mereka seperti mereka yang selalu setia menjaga seluruh rahasia kita. Wallahualam bissawab.

SELESAI

2 komentar: