Putih dan lembut adalah simbol dari
seorang Ibu. Selama sembilan bulan ia mengandung bayi dengan penuh kelelahan.
Namun, ia tak pernah sedikitpun mengucapkan keluh-kesahnya itu melalui bibir
manisnya. Ia selalu ikhlas dan penuh pengharapan untuk menyambut calon bayinya
itu lahir ke dunia ini.
Ah,
Ibu. Kau memang pahlawan bagiku. Engkau tiada duanya, Bu.
Karakter setiap orang itu sangat
beragam, selalu berbeda walaupun itu satu saudara kandung, satu darah dan satu
rahim. Jangan jauh-jauh mengambil contoh, misalnya aku. Aku adalah Syarafana
Qurratu’aini. Seorang anak dari tiga bersaudara yang memiliki karakter
ambisius.
Ketika aku duduk di bangku SMA, aku
sangat bermimpi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan Tinggi. Namun, faktor
ekonomi membuat aku ditentang keras oleh Ayahku untuk tidak melanjutkan ke
jenjang berikutnya. Aku marah, aku sedih, aku kesal. Hanya itu dan itu yang
selalu aku rasakan setiap hari ketika Ayahku bilang, “Udah Neng, kamu jangan
kuliah-kuliah segala. Kamu punya uang dari mana? Kamu tahu kan Ayah hanya bisa
membiayaimu hingga SMA, Ayah tidak mampu membiayai kamu untuk kuliah. Nanti
setelah surat kelulusan diterima, Ayah kirim kamu ke Bekasi ya ke rumah Uwak
untuk kerja disana.”
Bagaikan
disambar petir disiang hari. Cita-citaku untuk menjadi seorang sarjana hampir
hilang, musnah entah kemana. Aku hanya bisa berdo’a terus disetiap sujudku.
Pendaftaran jalur SNMPTN Undangan
tinggal dua minggu lagi, sedangkan aku belum dapat restu dari Ayah. Aku
bingung, aku kalut, dan aku takut.
Suatu
malam Ibu mengdatangi aku di kamar biru yang selalu aku tata rapi. Ibu berkata
dengan penuh kelembutan, “Nak, bagaimana dengan rencanamu untuk melanjutkan ke
Perguruan Tinggi? Apakah masih ada hasrat untuk meneruskannya?”
Aku
sontak kaget mendengar perkataan Ibu seperti itu. Hati dan pikiranku dipenuhi
oleh pertanyaan-pertanyaan tentang ini.
“Ibu
kenapa bertanya seperti itu? Cita-cita Ara masih tetap Ara genggam kuat kok Bu.
Tapi gimana lagi Bu, Ayah menentang mimpi Ara.”
Ibu
tersenyum, “Bukan Ayahmu menentang dan tidak mau anaknya sukses serta menjadi
sarjana, Nak. Ayahmu hanya khawatir jika suatu saat nanti ketika kamu sudah
masuk kuliah Ayah tidak sanggup membiayaimu lagi. Apa kamu sanggup mencari
biaya sendiri?”
Aku
terdiam tanpa kata.
“Memangnya
kamu mau melanjutkan kuliah dimana?” Ibu bertanya lagi
“Aku
ingin kuliah di Bandung, Bu. Aku ingin menjadi seorang guru.”
“Apa? Di Bandung? Ibu tidak mengijinkanmu kuliah di Bandung, Nak.”
“Apa? Di Bandung? Ibu tidak mengijinkanmu kuliah di Bandung, Nak.”
Oh
Tuhan, apalagi ini? Aku ditentang lagi oleh Ibu untuk kuliah di Bandung. Lalu
harus dimana?
***
Aku ceritakan apa yang terjadi
dengan diri ini kepada guru BP aku. Ternyata beliau menawarkan aku untuk
melanjutkan kuliah di Bogor.
“Ra, kalau kamu tidak diijinkan
kuliah di Bandung, yasudah kamu kuliah saja di Bogor. Ini Bapak kasih
brosurnya, kamu baca baik-baik. Siapa tahu ada jurusan yang kamu suka dan kamu
minati.”
Bogor? Pertanian? Mau apa aku
disana? Bogor itu jauh dengan daerah tempat tinggalku. Petanian. Aku tidak ada
minat di pertanian.
Setelah beberapa kali aku baca dan
dibolak-balik brosur pemberian guru BP, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil
salah satu jurusan di Perguruan Tinggi ini. Aku yakin dan aku harus bisa lolos.
***
“Bu, aku sudah memutuskan untuk
melanjutkan kuliah di Bogor. Apakah Ibu merestuinya?” Aku bertanya pada Ibu
dengan wajah yang penuh harap.
“Kamu yakin mau di Bogor? Kalau kamu
yakin, Ibu restui. Ibu merestui kamu kuliah dimana saja, asal jangan di
Bandung.”
“Memangnya kalau di Bandung kenapa,
Bu?”
“Ibu, tahu pergaulan kota Bandung
dan biaya hidupnya juga serba mahal.”
Oh
ternyata itu alasan mengapa Ibu tidak merestui aku untuk kuliah di Bandung.
“Ya Bu, Ara paham sekarang. Mohon
do’anya saja ya Bu agar dipermudah semuanya.”
“Di setiap malam, sehabis shalat fardu, Ibu selalu mendo’akanmu, Nak.”
“Di setiap malam, sehabis shalat fardu, Ibu selalu mendo’akanmu, Nak.”
***
Pengumuman penerimaan mahasiswa baru
telah di buka. Aku diam-diam berangkat ke warnet untuk membuka pengumuman itu.
Degdegan,
tegang, itu yang aku rasakan. Harap-harap cemas, karena aku nekat daftar hanya
ke satu perguruan tinggi tanpa ada pilihan kedua maupun ketiga. Ini adalah penentuan
jalan hidup aku. Jika aku tidak lolos, maka mau tidak mau berarti aku harus
mengikuti apa yang diperintahkan Ayah.
Ketika pukul lima sore aku membuka
pengumumannya dan disana tercantum tulisan SELAMAT ! ANDA DITERIMA SEBAGAI
PESERTA SNMPTN UNDANGAN DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR.
Allahu
akbar...
Saat
itu aku langsung sujud syukur tanpa menghiraukan orang-orang disekitar warnet. Aku
langsung bergegas pulang untuk memberitahukan kabar bahagia ini.
Dulu aku tidak pernah paham akan
makna dari istilah Restu Ibu adalah Restu Allah. Sekarang aku tahu makna ini
yang sebenarnya. Ketika seorang Ibu tidak pernah merestui apa yang akan kita
lakukan, maka jangan berharap semuanya akan baik-baik saja. Kekuatan doa
seorang Ibu itu melebihi kekuatan apapun. Mampu melawan segala ketakutanku,
keraguanku, kebimbanganku, dan kesedihanku. Walapun aku tidak pernah tahu
bagaimana Ibu ketika mendoakanku, yang aku tahu bahwa Ibu selalu mendo’akan
yang terbaik buatku dengan cara apapun.
Ibu, kau adalah sandaranku. Tanpa
doamu, aku tidak akan sampai pada tahap-tahap mimpiku. Mimpi-mimpi yang pernaha
aku tulis sejak dahulu kala.
Aku
mencintaimu karena Allah, Bu...
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar