Selasa, 28 Januari 2014

RESTU IBU ADALAH RESTU ALLAH


            Putih dan lembut adalah simbol dari seorang Ibu. Selama sembilan bulan ia mengandung bayi dengan penuh kelelahan. Namun, ia tak pernah sedikitpun mengucapkan keluh-kesahnya itu melalui bibir manisnya. Ia selalu ikhlas dan penuh pengharapan untuk menyambut calon bayinya itu lahir ke dunia ini.
Ah, Ibu. Kau memang pahlawan bagiku. Engkau tiada duanya, Bu.
            ***
            Karakter setiap orang itu sangat beragam, selalu berbeda walaupun itu satu saudara kandung, satu darah dan satu rahim. Jangan jauh-jauh mengambil contoh, misalnya aku. Aku adalah Syarafana Qurratu’aini. Seorang anak dari tiga bersaudara yang memiliki karakter ambisius.
            Ketika aku duduk di bangku SMA, aku sangat bermimpi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan Tinggi. Namun, faktor ekonomi membuat aku ditentang keras oleh Ayahku untuk tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Aku marah, aku sedih, aku kesal. Hanya itu dan itu yang selalu aku rasakan setiap hari ketika Ayahku bilang, “Udah Neng, kamu jangan kuliah-kuliah segala. Kamu punya uang dari mana? Kamu tahu kan Ayah hanya bisa membiayaimu hingga SMA, Ayah tidak mampu membiayai kamu untuk kuliah. Nanti setelah surat kelulusan diterima, Ayah kirim kamu ke Bekasi ya ke rumah Uwak untuk kerja disana.”
Bagaikan disambar petir disiang hari. Cita-citaku untuk menjadi seorang sarjana hampir hilang, musnah entah kemana. Aku hanya bisa berdo’a terus disetiap sujudku.
            Pendaftaran jalur SNMPTN Undangan tinggal dua minggu lagi, sedangkan aku belum dapat restu dari Ayah. Aku bingung, aku kalut, dan aku takut.
Suatu malam Ibu mengdatangi aku di kamar biru yang selalu aku tata rapi. Ibu berkata dengan penuh kelembutan, “Nak, bagaimana dengan rencanamu untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi? Apakah masih ada hasrat untuk meneruskannya?”
Aku sontak kaget mendengar perkataan Ibu seperti itu. Hati dan pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang ini.
“Ibu kenapa bertanya seperti itu? Cita-cita Ara masih tetap Ara genggam kuat kok Bu. Tapi gimana lagi Bu, Ayah menentang mimpi Ara.”
Ibu tersenyum, “Bukan Ayahmu menentang dan tidak mau anaknya sukses serta menjadi sarjana, Nak. Ayahmu hanya khawatir jika suatu saat nanti ketika kamu sudah masuk kuliah Ayah tidak sanggup membiayaimu lagi. Apa kamu sanggup mencari biaya sendiri?”
Aku terdiam tanpa kata.
“Memangnya kamu mau melanjutkan kuliah dimana?” Ibu bertanya lagi
“Aku ingin kuliah di Bandung, Bu. Aku ingin menjadi seorang guru.”
“Apa? Di Bandung? Ibu tidak mengijinkanmu kuliah di Bandung, Nak.”
Oh Tuhan, apalagi ini? Aku ditentang lagi oleh Ibu untuk kuliah di Bandung. Lalu harus dimana?
            ***
            Aku ceritakan apa yang terjadi dengan diri ini kepada guru BP aku. Ternyata beliau menawarkan aku untuk melanjutkan kuliah di Bogor.
            “Ra, kalau kamu tidak diijinkan kuliah di Bandung, yasudah kamu kuliah saja di Bogor. Ini Bapak kasih brosurnya, kamu baca baik-baik. Siapa tahu ada jurusan yang kamu suka dan kamu minati.”
            Bogor? Pertanian? Mau apa aku disana? Bogor itu jauh dengan daerah tempat tinggalku. Petanian. Aku tidak ada minat di pertanian.
            Setelah beberapa kali aku baca dan dibolak-balik brosur pemberian guru BP, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil salah satu jurusan di Perguruan Tinggi ini. Aku yakin dan aku harus bisa lolos.
            ***
            “Bu, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Bogor. Apakah Ibu merestuinya?” Aku bertanya pada Ibu dengan wajah yang penuh harap.
            “Kamu yakin mau di Bogor? Kalau kamu yakin, Ibu restui. Ibu merestui kamu kuliah dimana saja, asal jangan di Bandung.”
            “Memangnya kalau di Bandung kenapa, Bu?”
            “Ibu, tahu pergaulan kota Bandung dan biaya hidupnya juga serba mahal.”
Oh ternyata itu alasan mengapa Ibu tidak merestui aku untuk kuliah di Bandung.
            “Ya Bu, Ara paham sekarang. Mohon do’anya saja ya Bu agar dipermudah semuanya.”
            “Di setiap malam, sehabis shalat fardu, Ibu selalu mendo’akanmu, Nak.”
            ***
            Pengumuman penerimaan mahasiswa baru telah di buka. Aku diam-diam berangkat ke warnet untuk membuka pengumuman itu.
Degdegan, tegang, itu yang aku rasakan. Harap-harap cemas, karena aku nekat daftar hanya ke satu perguruan tinggi tanpa ada pilihan kedua maupun ketiga. Ini adalah penentuan jalan hidup aku. Jika aku tidak lolos, maka mau tidak mau berarti aku harus mengikuti apa yang diperintahkan Ayah.
            Ketika pukul lima sore aku membuka pengumumannya dan disana tercantum tulisan SELAMAT ! ANDA DITERIMA SEBAGAI PESERTA SNMPTN UNDANGAN DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR.
            Allahu akbar...
Saat itu aku langsung sujud syukur tanpa menghiraukan orang-orang disekitar warnet. Aku langsung bergegas pulang untuk memberitahukan kabar bahagia ini.
            Dulu aku tidak pernah paham akan makna dari istilah Restu Ibu adalah Restu Allah. Sekarang aku tahu makna ini yang sebenarnya. Ketika seorang Ibu tidak pernah merestui apa yang akan kita lakukan, maka jangan berharap semuanya akan baik-baik saja. Kekuatan doa seorang Ibu itu melebihi kekuatan apapun. Mampu melawan segala ketakutanku, keraguanku, kebimbanganku, dan kesedihanku. Walapun aku tidak pernah tahu bagaimana Ibu ketika mendoakanku, yang aku tahu bahwa Ibu selalu mendo’akan yang terbaik buatku dengan cara apapun.
            Ibu, kau adalah sandaranku. Tanpa doamu, aku tidak akan sampai pada tahap-tahap mimpiku. Mimpi-mimpi yang pernaha aku tulis sejak dahulu kala.
Aku mencintaimu karena Allah, Bu...
SELESAI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar