Rabu, 07 Juli 2021

Cerita Lahiran Anak Pertama : Eshal Khairul Azzam

    Namaku Atin Sumiarti, kelahiran tahun 1994. Aku menikah dengan seorang lelaki dewasa yang usianya terpaut cukup jauh, yaitu 13 tahun. Aku menikah pada tahun 2o16 saat aku masih menjalankan pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di daerah Bogor. Tepatnya saat itu aku masih kuliah semester 8. Mepet ya. Sudah tidak sabar untuk membina rumah tangga ternyata. 

    Tahun 2o16, lebih tepatnya dua bulan setelah menikah, aku hamil untuk pertama kalinya. Ada rasa bahagia, haru dan pokoknya campur aduk. Banyak hal yang aku rasakan selama menjalani kehamilan anak pertama, terutama dalam masalah adaptasi tubuh ini sehingga aku diharuskan untuk mengungsi ke rumah orang tua di Subang demi ada yang menjaga lebih intensif karena saat itu aku tidak bisa makan nasi sama sekali. Sungguh hal itu membuat suami aku menjadi khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan kondisi kandunganku. 

    Selama hampir satu bulan aku meninggalkan suami, akhirnya aku bisa berdamai dengan kondisi yang aku jalani saat itu. Aku bisa menyelesaikan tugas akhirku dengan baik. Aku melaksanakan seminar hasil penelitian saat dikehamilan trimester pertama, lupa tepatnya pada usia berapa. Begitu juga dengan sidang akhir, aku menjalaninya dengan kuat dan mulus. Saat aku sedang hamil usia kandungan 4 bulan. Sungguh fase yang luar biasa aku lewati, dan aku berterimakasih untuk saat itu pada diri sendiri dan juga janin yang ada di dalam perutku ini. Kita berhasil melewatinya dengan baik. Terakhir, saat kandunganku berusia 6 bulan, aku menjalani prosesi wisuda. Luar biasa sibuknya saat hamil anakpertama. 

     

Tahun 2o17

    Minggu, 29 Januari 2o17 dini hari aku terbangun karena merasa tidak nyaman dengan perutku. Mulai dari pukul dua malam, aku tidak berhenti bolak-balik ke kamar mandi hingga adzan subuh menjelang. Aku bingung, apa yang terjadi dengan tubuhku? Kemudian aku mendatangi kamar Ibuku yangkebetulan sudah datang ke Bogor untuk mendampingi aku melahirkan. Dan, Ibuku berkata kalau ini adalah tanda-tanda persalinan akan segera tiba. Aku melaksanakn solat Subuh dengan sedikit menahan rasa sakit dalam perutku. Gelombang cinta yang aku rasakan belum terlalu sering. Aku masih bisa bercanda dengan adikku saat itu. 

    Pukul o7.oo aku segera berangkat ke rumah sakit karena perutku sudah mulas tidak karuan. Saat tiba di IGD RS Ummi Kota Bogor, aku sudah pembukaan 4. Rasanya masih biasa saja dan aku masih bisa bercanda dengan suami. Perawat terus memeriksa kondisiku dan tidak lama aku segera dipindahkan ke ruangan bersalin. Saat di ruang bersalin sekitar pukul delapan, aku sudah pembukaan 6. Alhamdulillah.

    Ibuku tidak pernah jauh dari sampingku, semuanya beliau yang urus. Suami sibuk urus administrasi. Saat pukul sepuluh, aku sudah berada dipembukaan 9. Saat itu aku merasa pembukaan 6 ke 9 itu terasa lama sekali. Sesekali aku menangis karena tidak kuasa menahan rasa sakit. Apalagi menjelang pembukaan 1o, aku harus menahan rasa mulas ini jangan sampai aku kelepasan untuk mengejan karena itu sangat berbahaya. Aku tahan dan juga menangis sesegukan. Ah, sungguh cengeng rasanya!

    Aku sendirian di ruang persalinan, ibuku pergi ke luar sebentar untuk menemui adikku dan suamiku katanya izin pulang dulu ke rumah karena ada masalah dengan server. Tiba-tiba, saat pukul 11 lebih, ketubanku pecah dan perawat langsung berhamburan kedalam, begitu juga dengan dokternya. Ini adalah tanda kalau bayiku sudah ingin keluar. Semua jadi rame, ibuku terus membacakan ayat-ayat Allah. Aku dituntun untuk melakukan ini dan itu oleh bidan perawat. Tapi karena aku bandel, posisi kakiku sebelah kanan diangkat. Apa hasilnya? Jalan lahirku harus dijahit luar dan dalam. Lalu kata dokter apa? Jahitanku tak terhitung. Aww, sungguh merinding!

     Pukul 11.35 WIB, anakku lahir dengan jenis kelamin laki-laki, berat 3371 gram, tinggi 48 cm. 

Ayahnya dimana? Ayahnya lagi di perjalanan balik lagi ke RS. Haha.

Alhamdulillah, lancar dan tidak perlu waktu yang lama melewati fase melahirkan anak pertamaku ini.

   

 Itulah sedikit cerita lahiran anak pertama. Aku simpan di sini sebagai kenang-kenangan. Semoga Eshal menjadi anak yang soleh dan penolong di akhirat kelak. Aamiin.

 

Bogor, 8 Juli 2o21
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar