Kehamilan anak ketiga memang berbeda dengan kehamilan-kehamilan sebelumnya. Banyak hal yang dirasakan dan juga dilewati. Dari pertama mendapatkan garis dua, hal yang pertama dilakukan adalah menangis. Ya, menangis! Bukan menangis karena bahagia, melainkan menangis karena bingung mendapatkan kabar hamil ketiga dalam kondisi anak-anak masih kecil terlebih anak kedua masih berusia 18 bulan. Namun, suami adalah salah satu orang yang paling menguatkan dan mendukung penuh atas anugerah yang Allah berikan dalam keluarga kami. Beliau selalu mengatakan bahwa ini rezeki yang Allah titipkan kepada kami dan itu artinya bahwa menurut Allah SWT kami sanggup untuk memikulnya. InsyaAllah.
Banyak hal yang aku rasakan selama perjalanan hamil ketiga ini, mungkin salah satunya usiaku yang bertambah dan juga energiku yang terbagi untuk mengurus kedua kakaknya juga. Kelelahan yang tak berujung dan juga banyak yang dirasakan juga oleh tubuh ini. Mulai dari sakit pinggang hingga sakit kaki. Namun, semua itu tidak membuat aku menyerah dengan keadaan. Walau ini hamil yang dikatakan "kesundulan", aku tetap harus selalu menjaganya sebaik mungkin. Bagaimanapun ini adalah calon anakku, berarti aku harus bertanggungjawab atas semuanya.
Entah mungkin karena 'jam terbangku' sudah lumayan baik dibandingkan hamil sebelumnya, walau fisik terasa lelah tetapi untuk urusan asupan makanan tidak banyak drama yang terjadi. Sepanjang kehamilan tidak ada drama tak mau makan nasi atau semacamnya. Alhamdulillah, makan selalu lahap dan suplemen kehamilanpun selalu dikonsumsi setiap hari. Itu adalah salah satu kenikmatan yang Allah berikan kepadaku saat hamil anak ketiga.
Ada perbedaan yang menggelitik saat kontrol atau pemeriksaan kehamilan ke dokter kandungan setiap bulan, yaitu selalu rombongan. Ya, rombongan mirip yang mau antar periksa anak. Kenapa rombongan? Karena di rumah sudah ada dua anak dan anak sambungku beserta adik iparku tinggal satu rumah. Jadi, selalu ramai kemanapun kami pergi. Seseru itu memang saat kontrol ke dokter kandungan.
Saat hamil ketiga bertepatan dengan pandemi ditahun kedua. Sebenarnya banyak ketakutan juga yang aku alami. Apalagi wanita hamil merupakan salah satu orang yang rentan terhadap virus C19. Kemanapun aku pergi, masker tidak pernah lepas demi kebaikan bersama. Saat trimester 2 pun dokter kandungan yang biasa menanganiku terinfeksi Covid-19 dan harus isolasi mandiri selama tiga minggu. Saat itu benar-benar sangat menegangkan. Pada bulan Agustus, kasus Covid-19 varian Delta sempat melonjak. Bahkan banyak kerabat yang terinfeksi dan juga ada yang meninggal karena Covid-19. Sudahlah saat itu semakin khawatir. Apalagi masa persalinanku akan segera datang.
Benar. Proses persalinan yang ketiga ini akan sangat berbeda dari dua yang sebelumnya karena aturan yang sangtat ketat dari rumah sakit. Saat persalinan hanya bisa ditemani oleh satu orang dan tidak dapat dijenguk saat di ruang perawatan setelahnya. Sungguh akan menjadi pengalaman yang lain dalam persalinan di tahun 2021. Banyak hal yang baru dan aturan yang baru pula.
Singkat cerita, pada tanggal 24 Oktober 2021, perut sudah mulai tidak nyaman. Memang pada pekan ini aku sudah mempersiapkan diri karena menjelang HPL. Seperti bisa, setiap akan melahirkan, mama selalu datang ke Bogor untuk mendampingi anaknya persalinan. Menjelang Magrib, perut sudah mulai tidak karuan. Aku solat terlebih dahulu, kemudian makan pempek buatan bibiku dari Subang. Lumayan untuk mengganjal perut yang lapar takutnya malamnya harus pergi ke rumah sakit. Benar saja, pukul sepuluh malam perutku sudah kontraksi dengan durasi singkat. Pukul 23.00 aku, mama dan suami sampai di IGD salah satu rumah sakit swasta di Kota Bogor. Setelah diperiksa, ternyata masih bukaan 4. Hmm, masih lumayan jauh.
Prosedur saat pandemi memang laur biasa. Saat perut mulas karena kontraksipun harus dilakukan test PCR dahulu untuk mengetahui postif C19 atau negatif. Alhamdulillah, ternyata negatif. Lega. Tapi, kelegaan itu tidak berlangsung lama, dokter kandungan yang biasa konsultasi pada malam itu sedang cuti dikarenakan sedang menjalankan operasi besar di rumah sakit lain. Dokter tersebut menyarankan ke rekannya sesama dokter kandungan tetapi laki-laki. Bingung. Tiba-tiba suamiku protes dan meminta pergantian dokter agar persalinan ini ditangani oleh dokter perempuan. Alhamdulillah ternyata bisa dan dokter yang dimaksudpun menyanggupinya.
Pembukaan jalan lahirku masih berada diangka 4 walau sudah beberapa jam juga. Mama sempat tidak percaya dan akupun kecewa karena tidak seperti biasanya lama seperti ini. Padahal, kontraksi sudah mulai kuat dan rapat. Pada pukul tiga dini hari, aku turun dari ranjang untuk melakukan gerakan-gerakan yang memudahkan janin segera turun ke bawah. Ternyata satu jam kemudian, pembukaan sudah bertambah jadi 8. Waw, MasyaAllah. Setelah itu, mulas semakin menjadi dan aku mulai sulit untuk mengendalikan diri.
Saat Adzan Subuh menggema, aku dan janin masih berjuang untuk menemukan jalan lahir yang terbaik dan ternyaman. Mama masih setia mendampingiku dan suami pergi ke masjid. Pukul lima sudah pembukaan lengkap, namun belum diperbolehkan untuk mengejan. Huh, ini adalah momen yang paling aku benci setiap proses melahirkan. Menahan rasa mulas yang tak terhingga, tetapi belum boleh mengejan itu rasanya luar biasa, kawan.
Dokter sungguh lama, mungkin ia menjalankan solat Subuh terlebih dahulu. Pada saat dokter datang, hanya beberapa kali mengejan, Alhamdulillah bayi lahir dengan sehat, baik, dan sempurna. Dokter hanya tersenyum dan aku meminta maaf kepada seluruh perawat serta bidan yang semalaman mendampingi karena terus-terusan aku omeli. Maaf, ya.
Alhamdulillah, pukul 05.27 WIB, Emir Fathan Al Andalus lahir ke dunia fana ini. Semoga menjadi anak yang shalih ya, Nak. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar