Kamis, 03 September 2015

Kupetik Bintang di Langit


              Mimpi adalah sesuatu hal yang gratis. Setiap manusia berhak memiliki mimpi sebanyak mungkin. Dilarang? Tidak ! Tidak ada larangan bagi siapapun untuk memiliki segudang mimpi. Karena mimpi dapat menjadi dorongan dalam diri untuk terus berupaya dan berusaha keras agar mencapai apa yang diinginkan.
           Pernah terpikirkan dalam benak, apakah seorang anak dari kampung yang terpencil dapat menjadi seorang yang sukses? Dapat menjadi seorang jutawan atau milyarder? Atau hanya sekedar keluar kota untuk merajut mimpi dan asa demi keluarga? Ah, pikiran itu memang selalu mengganggu langkah ini.
            “Bu, bolehkah aku melanjutkan untuk kuliah di luar kota?” perlahan suara itu keluar dari bibir seorang anak dari keluarga yang tidak memiliki apa-apa. Pertanyaan itu bukan untuk membuat seorang Ibu merasa sedih. Bukan. Namun, pertanyaan itu hanya ingin membuat si anak memiliki kepastian dan restu dari Ibunya sendiri.
“Ibu mana yang tidak menginginkan anaknya untuk memiliki pendidikan yang layak. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya untuk berhasil. Tapi, kamu tahu sendiri kondisi ekonomi keluarga kita seperti apa, Nak.” Ibu dengan wajah yang tampak lesu menjawab pertanyaan anaknya.
Terkadang apa yang kita inginkan dan harapkan tidak sejalan dengan kenyataan. Kita tidak dapat menyalahkan Tuhan, mengapa dilahirkan dalam keluarga seperti ini. Bukankah dulu sejak kita sebelum lahir ke dunia bernegosiasi dengan Tuhan untuk menentukan di keluarga mana kita akan terlahir dan hidup? Ya. Sejak itulah kita sudah siap dengan segala apapun yang akan dijalani di dunia ini. Maka, bukankah berkeluh kesah dengan takdir Tuhan merupakan hal yang tidak baik dan merugikan diri sendiri?
“Baik, Bu. Semoga ada jalan untuk mewujudkan keinginan, Tia.” 
Pantang menyerah dan optimis adalah sikap yang memang diperlukan untuk meraih segala impian dan harapan. Bukan tidak mungkin, hal tersebut dapat menjadi suntikan semangat untuk terus berlari mengejar impian agar dapat terwujud menjadi nyata. Bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kan?
===
            Nekat. Terkadang sikap itu perlu dimiliki untuk mengubah jalan hidup ini. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, Tia mendaftarkan diri untuk masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka. Ya Allah, semoga apa yang aku lakukan tidak sia-sia dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku harus terus berjuang. Hati Tia terasa gelisah, namun tetap mencoba untuk terus yakin pada Tuhan.
            “Bu, Bapak belum pulang?” Tia bertanya kepada Ibunya yang sedang sibuk mencuci baju. “Belum, Nak. Mungkin masih di pangkalan ojek.” Jawabnya dengan singkat.
            Ya. Ayah Tia bekerja sebagai tukang ojek. Sejak masih muda hingga saat ini pekerjaan Ayah Tia tidak pernah berubah. Namun, terkadang hati Tia sakit ketika beberapa orang suka mengolok-olok ataupun menghina para tukang ojek. Mereka tidak mengerti bagaimana lelahnya dan perjuangan seorang tukang ojek. Lebih sering mereka memandang hanya dari sebelah mata. Bukankah bekerja sebagai tukang ojek itu lebih mulia dibanding mereka yang duduk manis di bangku parlemen yang katanya membela rakyat kecil tapi pada kenyataanya menyiksa rakyat kecil? Dengan dalih membela rakyat, mereka dapat semaunya membuat segala aturan dan kekuasaan yang sebenarnya hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Ah, sungguh menyedihkan negeri ini.
            “Kamu sudah makan, Nak? Ibu sudah memasak makanan buat kamu. Tapi ingat, jangan dihabiskan semua, Bapakmu belum makan.” Suruh Ibu. “Ya, Bu. Tia makan sekarang ya.” Tia segera berlari menuju meja makan. Alhamdulillah, Ya Allah, keluarga kami masih dapat makan dan minum dengan baik. Walaupun dengan lauk seadanya. Tapi setidaknya kami masih dapat makan dan minum.
            Syukur adalah sesuatu yang dapat merobohkan kesombongan dan keangkuhan dalam hati manusia. Apapun yang dimakan dan diminum harus tetap disyukuri. Bersyukur masih dapat makan dan minum dibandingkan dengan orang-orang di luar sana yang tidak memiliki tempat tinggal dan hidup di emperan toko. Setiap hari berpindah tempat untuk tetap dapat bertahan hidup. Mencari tempat yang aman untuk berteduh dan bermalam. Sungguh, terkadang rasa syukur terlupakan oleh manusia karena gemerlapnya dunia dan kesenangan semu yang dirasakan oleh mereka. Sudahkan kita bersyukur hari ini? Tanyakan pada hati masing-masing.
            Assalamu’alaikum.” Sayup-sayup suara terdengar dari balik pintu. Tia dengan sigap membuka pintunya. “Wa’alaikumussalam. Bapak.” Ayah Tia datang dari tempat kerjanya. “Pak, makan dulu yuk, Ibu sudah memasak makanan buat Bapak.” Tia mengajak Ayahnya untuk makan dan meraka langsung menuju meja makan.
            “Tia, UN kapan dilaksanakan?” Ayah bertanya pada Tia.
            “Bulan depan, Pak. Insya Allah Tia sudah siap.” Tia menjawab dengan penuh senyuman. “Syukurlah kalau kamu sudah siap. Nanti setelah surat kelulusan diambil, kamu mau gak Bapak kirimkan ke uwakmu di Bekasi?”
Tia bingung dan penasaran, mengapa ia harus disuruh ke Bekasi. “Ke Bekasi untuk apa, Pak?” Tia balik bertanya. “Untuk bekerja di sana, Nak.”
Kerja? Bagaimana jika aku lulus test ke perguruan tinggi? Mana yang harus aku pilih?. Tia merasa bingung, namun ia tetap mencoba untuk tenang dihadapan Ayahnya. “Bagaimana?” Sambung Ayahnya. “Insya Allah, Pak, Tia mau pergi ke sana.”
===
Ujian Nasional telah tiba. Saat-saat dimana setiap siswa merasakan ketegangan dan kekhawatiran yang luar biasa. Karena nasib mereka lulus atau tidaknya dari sekolah hanya ditentukan dengan waktu beberapa hari. Selama sekolah tiga tahun, hanya tiga atau empat hari yang menentukan semuanya. Sistem pendidikan yang menakutkan bagi para siswa.
Tia berangkat dari rumah pukul enam pagi. Kala itu matahari tidak menampakkan sinarnya. Padahal saat itu tubuh Tia sedang membutuhkan kehangatan karena sedang dilanda ketegangan yang begitu kuat. Bagaimana tidak, beberapa hari ke depan akan menjadi hari-hari berat bagi Tia.
Ya Allah, apakah aku bisa berhasil melewati hari demi hari dalam menjalankan Ujian Nasional ini? Harapanku dan kedua orang tua begitu besar agar dapat lulus dengan nilai yang terbaik. Cita-citaku tinggi. Mimpiku begitu besar dan aku sangat ingin mengggapainya dengan segala usahaku walau harus terjatuh dan terinjak dahulu. Ah, sungguh hidup ini begitu banyak ujiannya agar dapat naik ke tinggat yang lebih tinggi.  Tia merenung sejenak setelah menyelesaikan lembar demi lembar soal ujian. Wajahnya begitu kusut karena seharian otaknya dikuras untuk berpikir lebih dalam mengerjakan soal-soal UN yang nampak begitu mudah namun menyulitkan.
            Tia keluar ruangan ujian dengan penuh harap dan doa. Ia yakin apa yang telah dikerjakannya akan membuahkan hasil yang memuaskan karena persiapan untuk menjalankan ujian nasional sudah dilakukan begitu lama.
===
            Penantian untuk menerima surat kelulusan akhirnya tiba juga. Seluruh siswa memenuhi kantor pos untuk mengambil surat kelulusan. Suasana begitu riuh ramai. Beberapa terlihat siswa laki-laki menerobos barisan siswa perempuan dan terlihat pula wajah-wajah yang tegang serta harap-harap cemas ingin segera menerima surat.
            “Ega, aku tegang. Takut.” Keluh Tia pada salah satu teman baiknya. “Jangan tegang, beb, Insya Allah kita pasti lulus.” Beb, adalah panggilan kesayangan antara satu sama lain dalam sebuah ikatan persahabatan, sahabat yang selalu menemani selama tiga tahun di SMA. Lia, Mega, dan Revianita. Mereka adalah sahabat yang selalu memberikan semangat untuk terus bermimpi dan mereka juga termasuk yang memaksa Tia untuk medaftar ke perguruan tinggi. Karena mereka yakin dengan kemapuan Tia kalau ia mampu masuk ke tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana tidak, Tia merupakan siswa yang masuk dalam peringkat sepuluh besar di kelas paralel jurusan IPA.
            “Nanti antar aku ke Pak Mamang ya, Ga?” Tia meminta bantuan kepada Mega. “Ada urusan apa kamu sama guru BP?” Mega bertanya kembali. “Ini, mau minta PIN Bidikmisi yang waktu itu. Soalnya aku lupa menyimpan.” Tia menjelaskan kepada sahabatnya. “Oh, baiklah.”
Saatnya giliran Tia masuk ke dalam kantor pos untuk mengambil surat kelulusan. Wajah Tia tegang ketika menerima surat tersebut. Perlahan dibukanya surat tersebut. Alhamdulillah. Rasa syukur yang diucapkan oleh Tia kepada Tuhan yang selalu mengabulkan doa-doanya. Akhirnya aku lulus.
            Tia dan Mega bergegas pergi ke sekolah untuk mengabarkan berita baik ini kepada guru-gurunya sekaligus untuk mengucapkan rasa terimakasih atas segala bimbingan yang dilakukan mereka selama tiga tahun ini. Tidak hanya itu juga, Tia menemui guru BP untuk meminta PIN Bidikmisi yang hilang itu.
===
            Tia pulang ke rumah dengan Ayahnya. Karena hampir selama enam tahun dari SMP hingga SMA Tia selalu diantar jemput oleh Ayahnya. Tia memberikan kabar kepada Ibunya bahwa ia lulus.
            “Bu, akhirnya aku lulus juga dari SMA.” Tia memeluk Ibunya. “Alhamdulillah, Nak. Ibu senang mendengarnya.” Ibu pun memeluk Tia dengan penuh kehangatan.
            “Bu, nanti sore Tia mau pergi ke warnet mau cek sesuatu dulu. Tapi diantar sama Adek saja ya, Bu.”
            “Oh, iya boleh kok, Nak.”
            Pukul tiga sore Tia dan Adiknya berangkat menuju warnet. Ia tidak bilang kalau ia akan mengecek PIN Bidikmisi yang ia dapat dari guru BP. Namun, setelah satengah jam berada di sana, Tia penasaran dengan pengumuman SNMPTN Undangan yang ia ikuti. Ketika dicek ternyata pengumumannya pukul lima sore hari ini. Hah? Pengumuman SNMPTN Undangan jam lima? Ya Allah, aku degdengan sekali. Tia berbicara sendiri dalam hatinya.
            “Dek, kamu pulang dulu saja ke rumah. Teteh masih lama. Nanti jam setengah enam bisa jemput lagi ke sini ya.” Tia menyuruh Adiknya untuk pulang dulu. “Ya, Teh.” Adiknya menjawab. Teteh adalah sebutan bagi kakak perempuan di daerah Sunda atau Jawa Barat.
Pengumuman SNMPTN Undangan telah tiba. Tia dengan tangannya yang gemetar mencoba untuk membuka pengumuman tersebut. Dengan membaca Bismillah, Tia membukanya.
            Bismillahirrahmaanirrahim...
Alhamdulillah, Ya Allah. Ucapan syukur dan air mata Tia tidak dapat tertahankan lagi. semua orang yang berada di sana kaget dan heran dengan sikap Tia. Mungkin mereka berpikir, kenapa anak ini?. Rasanya Tia ingin menjerit sekencang-kencangnya. Namun, sejenak ia tersadarkan kalau dirinya telah menjadi pusat perhatian orang di sekitar warnet.
            Tidak lama kemudian Adiknya datang menjemput.
“Dek, Alhamdulillah, Teteh diterima di IPB.” Tia mengabarkan Adiknya dengan mata yang berlinang.
Alhamdulillah. Ya sudah, kita pulang yuk, beri kabar Bapak sama Ibu.” Ajak Adiknya. “Ya, Dek.”
            Mereka segera pulang ke rumah untuk memberikan kabar bahagia ini. Sepanjang perjalanan Tia tidak berhenti meneteskan air mata haru dan bahagia. Betapa tidak, ini mimpinya, mimpi besar yang ingin ia wujudkan. Mimpi yang selalu disebutkan dalam setiap doanya.
            “Bu, aku diterima SNMPTN Undangan di IPB.” Tia memeluk Ibunya yang sedang menyapu halaman. “Alhamdulillah. Tapi, kapan kamu mendaftar kuliah, Nak?” Ibu bertanya tentang hal itu.
“Maafkan Tia, Bu. Tia daftar diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu dan Bapak.”
“Ya sudah, ayuk masuk dulu ke rumah. Beritahu Bapakmu tentang kabar ini. Sekarang Bapak sedang di kamar mandi.”
            Takut. Gelisah. Bagaimana tidak, hal ini terjadi tanpa sepengetahuan Ayahnya. Bukankah Ayahnya menginginkan Tia kerja di Bekasi?.
Tidak lama kemudian Ayahnya keluar dari kamar mandi.
            “Pak, Tia diterima di IPB tanpa test.” Tia memberitahukan Ayahnya dengan meneteskan air mata.
            “Sejak kapan kamu mendaftarkan diri kuliah?” Ayahnya hanya memberikan respon yang datar-datar saja dengan keberhasilan anaknya. Mungkin hatinya senang anaknya dapat diterima disalah satu perguruan tinggi negeri, namun satu sisi ia khawatir dengan biaya yang akan dikeluarkan nanti setelah masuk kuliah.
            “Kenapa Bapak seperti tidak senang Tia diterima kuliah?”
            “Bagaimana dengan biaya kuliahnya nanti, Tia?” Ayah menjawab dengan suara perlahan.
            “Tia ikut mendaftarkan diri di beasiswa Bidikmisi, Pak. Insya Allah semua biaya kuliah ditanggung pemerintah dan juga Tia mendapatkan biaya hidup sampai wisuda nanti.”
            Terkadang sulit menerka hati dan pikiran seorang Ayah. Sulit, sungguh sulit. Begitu rapat dan tertutup hingga tidak mudah untuk menembus apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan olehnya. Butuh waktu untuk memebak semua itu.
===
            Besok akan dilaksanakan registrasi pertama untuk calon mahasiswa baru. Sibuk. Ya, sibuk. Tia sibuk mempersiapan berkas-berkas yang harus dibawa sebagai persyaratan agar tidak ada yang tertinggal. Mempersiapkan berkas persyaratan untuk IPB dan juga ternyata untuk mendapatkan beasiswa Bidikmisi masih harus dilakukan tahap wawancara. Takut. Tegang. Itulah hal yang dirasakan Tia dan keluarga. Bagaiman tidak, mereka sangat mengharapkan dapat menerima beasiswa tersebut. Tanpa beasiswa, Tia tidak dapat melanjutkan untuk kuliah. Bapak masih dengan sikapnya yang biasa saja terhadap keberhasilan anaknya.
            Ibu Tia yang mengantarkan ke Bogor sebagai perwakilan orang tua. Ayah Tia tidak dapat ikut karena harus bekerja mencari nafkah untuk keluarga.
“Bu, doakan Tia ya supaya diterima beasiswanya.” Tia meminta restu kepada Ibunya. “Ibu selalu mendoakan yang terbaik buatmu, Nak.” Terlihat genangan air di mata Ibu.
            Selama satu hari Tia melakukan registrasi dan wawancara. Lelah. Ya, lelah. Namun, lelah yang dirasakan olehnya dapat tergantikan dengan kebahagiaannya ketika bisa menginjakkan kaki di kampus yang akan menjadi tempat ia menimba ilmu untuk masa depan yang lebih indah.
            Ibu Tia dan yang lainnya langsung pulang menuju Subang. Tia dan teman yang lainnya menginap di Bogor untuk menerima surat keputusan diterima atau tidaknya beasiswa yang diajukan.
===
            Hari ini adalah waktu yang dinantikan oleh Tia dan teman lainnya yang daftar beasiswa Bidikmisi. Pukul satu tepatnya, mereka dikumpulkan di Gedung Graha Widya Wisuda untuk menerima surat keputusan. Tegang. Ya, wajah-wajah teganglah yang terlihat di ruangan tersebut. Para orang tua menunggu anak-anaknya di depan gedung.
Sudah nampak beberapa calon penerima Bidikmisi mengambil surat yang berwarna kuning. Ada yang keluar ruangan dengan wajah bahagia, tapi ada juga yang keluar ruangan dengan wajah yang kecewa. Kini giliran Tia yang mengambil surat yang berwarna kuning itu. Ya Allah, aku gemetaran.
Pernahkah mendengar bahwa Tuhan tidak pernah tidak mengabulkan doa hamba-Nya? Ya. Inilah jawaban Tuhan. Jawaban setiap doa yang dipanjatkan oleh makhluk yang lemah tanpa daya, makhluk yang yang terus berusaha keras tanpa menyerah untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Alhamdulillah, Ya Allah. Ucap Tia ketika membuka kertas yang berwarna kuning itu. Tia menangis di depan gedung. Tia akhirnya dapat kuliah di IPB tanpa biaya sedikitpun karena Tia diterima sebagai peserta beasiswa Bidikmisi.
Bu, Pak, Alhamdulillah Tia diterima beasiswa Bidikmisi. Terimaksih atas segala doa yang Ibu dan Bapak berikan untuk Tia. Tia minta maaf jika waktu medaftar kuliah tanpa memberitahu Ibu dan Bapak. Dikirimnya pesan singkat itu kepada orangtuanya.
Alhamdulillah, Nak. Di sini Ibu dan Bapak senang mendengar kabar tersebut. Tahukah anakku, Bapakmu di sini menangis ketika mendapat kabar ini. Balasan pesan singkat dari Ibu.
Awalnya tidak pernah terpikirkan apa yang diinginkan dapat terwujud menjadi kenyataan. Mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi Negeri yang terkenal dengan segudang prestasi dan inovasinya hanya bermodalkan semangat dan tekad yang kuat merupakan sesuatu yang mungkin ditertawakan oleh orang-orang di luar sana.  Tapi kini, sudah enam semester Tia berada di kampus rakyat, kampus hijau, kampus biodiversity, kampus yang penuh dengan inspirasi dan prestasi.
Mimpi. Cita-cita. Keinginan. Harapan. itu semua terwujud bukan tanpa kerja keras dan doa. Jika mimpi ingin menjadi sebuah kenyataan, maka perjuangkan dengan tekad dan semangat yang kuat. Ingin memetik bintang? Berjuanglah. Ketika bintang telah terpetik dan berada dalam genggaman, maka jagalah agar bintang itu terus bersinar terang.
***
Cerita di atas merupakan kisah nyata dari mahasiswa yang berasal dari sebuah kampung kecil di kaki gunung Tangkuban Parahu. Anak dari seorang tukang ojek yaitu bernama Atin Sumiarti mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen angkatan 49. Walaupun sudah tiga tahun lamanya kisah di atas telah dilalui, namun masih membekas dalam hati dan pikiran ini. Sulit rasanya untuk terlupakan dan mungkin tidak akan pernah dilupakan dan terlupakan meski waktu terus berlalu.
Tulisan ini dipersembahkan untuk Bapak tercinta yang selalu memberikan semangat selama empat semester. Kenapa empat semester? Ya, karena ketika memasuki semester empat Bapak pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Bapak pulang terlebih dahulu menemui Allah. Bapak selalu berkata “Anak tukang ojek juga bisa jadi sarjana, jangan malu.” Itulah yang menjadi motivasi untuk terus rajin belajar di kampus tercinta ini.
Terimakasih Bidikmisi.....

2 komentar:

  1. Aduh, ngeri kali bintang mau dibawa ke bumi. kiamat dong, wqqwqw
    Salam kenal, Kreta Amura

    BalasHapus
  2. Waah baru kebuka satu tahun kemudian komentarnya. Terimakasih sudah mampir ke blog saya🙏

    BalasHapus