Mimpi adalah sesuatu hal yang gratis. Setiap manusia berhak memiliki mimpi sebanyak mungkin. Dilarang? Tidak ! Tidak ada larangan bagi siapapun untuk memiliki segudang mimpi. Karena mimpi dapat menjadi dorongan dalam diri untuk terus berupaya dan berusaha keras agar mencapai apa yang diinginkan.
Pernah
terpikirkan dalam benak, apakah seorang anak dari kampung yang terpencil dapat
menjadi seorang yang sukses? Dapat menjadi seorang jutawan atau milyarder? Atau
hanya sekedar keluar kota untuk merajut mimpi dan asa demi keluarga? Ah,
pikiran itu memang selalu mengganggu langkah ini.
“Bu, bolehkah aku melanjutkan untuk
kuliah di luar kota?” perlahan suara itu keluar dari bibir seorang anak dari
keluarga yang tidak memiliki apa-apa. Pertanyaan itu bukan untuk membuat seorang
Ibu merasa sedih. Bukan. Namun, pertanyaan itu hanya ingin membuat si anak
memiliki kepastian dan restu dari Ibunya sendiri.
“Ibu
mana yang tidak menginginkan anaknya untuk memiliki pendidikan yang layak. Semua
orang tua pasti menginginkan anaknya untuk berhasil. Tapi, kamu tahu sendiri
kondisi ekonomi keluarga kita seperti apa, Nak.” Ibu dengan wajah yang tampak
lesu menjawab pertanyaan anaknya.
Terkadang
apa yang kita inginkan dan harapkan tidak sejalan dengan kenyataan. Kita tidak
dapat menyalahkan Tuhan, mengapa dilahirkan dalam keluarga seperti ini.
Bukankah dulu sejak kita sebelum lahir ke dunia bernegosiasi dengan Tuhan untuk
menentukan di keluarga mana kita akan terlahir dan hidup? Ya. Sejak itulah kita
sudah siap dengan segala apapun yang akan dijalani di dunia ini. Maka, bukankah
berkeluh kesah dengan takdir Tuhan merupakan hal yang tidak baik dan merugikan
diri sendiri?
“Baik,
Bu. Semoga ada jalan untuk mewujudkan keinginan, Tia.”
Pantang
menyerah dan optimis adalah sikap yang memang diperlukan untuk meraih segala
impian dan harapan. Bukan tidak mungkin, hal tersebut dapat menjadi suntikan
semangat untuk terus berlari mengejar impian agar dapat terwujud menjadi nyata.
Bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kan?
===
Nekat. Terkadang sikap itu perlu
dimiliki untuk mengubah jalan hidup ini. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, Tia
mendaftarkan diri untuk masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka. Ya Allah, semoga apa yang aku lakukan tidak
sia-sia dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku harus terus berjuang. Hati
Tia terasa gelisah, namun tetap mencoba untuk terus yakin pada Tuhan.
“Bu, Bapak belum pulang?” Tia
bertanya kepada Ibunya yang sedang sibuk mencuci baju. “Belum, Nak. Mungkin
masih di pangkalan ojek.” Jawabnya dengan singkat.
Ya. Ayah Tia bekerja sebagai tukang
ojek. Sejak masih muda hingga saat ini pekerjaan Ayah Tia tidak pernah berubah.
Namun, terkadang hati Tia sakit ketika beberapa orang suka mengolok-olok
ataupun menghina para tukang ojek. Mereka tidak mengerti bagaimana lelahnya dan
perjuangan seorang tukang ojek. Lebih sering mereka memandang hanya dari
sebelah mata. Bukankah bekerja sebagai tukang ojek itu lebih mulia dibanding
mereka yang duduk manis di bangku parlemen yang katanya membela rakyat kecil tapi
pada kenyataanya menyiksa rakyat kecil? Dengan dalih membela rakyat, mereka
dapat semaunya membuat segala aturan dan kekuasaan yang sebenarnya hanya untuk
kepentingan mereka sendiri. Ah, sungguh menyedihkan negeri ini.
“Kamu sudah makan, Nak? Ibu sudah
memasak makanan buat kamu. Tapi ingat, jangan dihabiskan semua, Bapakmu belum makan.”
Suruh Ibu. “Ya, Bu. Tia makan sekarang ya.” Tia segera berlari menuju meja
makan. Alhamdulillah, Ya Allah, keluarga
kami masih dapat makan dan minum dengan baik. Walaupun dengan lauk seadanya.
Tapi setidaknya kami masih dapat makan dan minum.
Syukur adalah sesuatu yang dapat
merobohkan kesombongan dan keangkuhan dalam hati manusia. Apapun yang dimakan
dan diminum harus tetap disyukuri. Bersyukur masih dapat makan dan minum
dibandingkan dengan orang-orang di luar sana yang tidak memiliki tempat tinggal
dan hidup di emperan toko. Setiap hari berpindah tempat untuk tetap dapat
bertahan hidup. Mencari tempat yang aman untuk berteduh dan bermalam. Sungguh,
terkadang rasa syukur terlupakan oleh manusia karena gemerlapnya dunia dan
kesenangan semu yang dirasakan oleh mereka. Sudahkan kita bersyukur hari ini?
Tanyakan pada hati masing-masing.
“Assalamu’alaikum.”
Sayup-sayup suara terdengar dari balik pintu. Tia dengan sigap membuka
pintunya. “Wa’alaikumussalam. Bapak.”
Ayah Tia datang dari tempat kerjanya. “Pak, makan dulu yuk, Ibu sudah memasak makanan buat Bapak.” Tia mengajak Ayahnya
untuk makan dan meraka langsung menuju meja makan.
“Tia, UN kapan dilaksanakan?” Ayah bertanya
pada Tia.
“Bulan depan, Pak. Insya Allah Tia sudah siap.” Tia
menjawab dengan penuh senyuman. “Syukurlah kalau kamu sudah siap. Nanti setelah
surat kelulusan diambil, kamu mau gak Bapak kirimkan ke uwakmu di Bekasi?”
Tia
bingung dan penasaran, mengapa ia harus disuruh ke Bekasi. “Ke Bekasi untuk
apa, Pak?” Tia balik bertanya. “Untuk bekerja di sana, Nak.”
Kerja? Bagaimana jika aku lulus
test ke perguruan tinggi? Mana yang harus aku pilih?. Tia
merasa bingung, namun ia tetap mencoba untuk tenang dihadapan Ayahnya.
“Bagaimana?” Sambung Ayahnya. “Insya
Allah, Pak, Tia mau pergi ke sana.”
===
Ujian
Nasional telah tiba. Saat-saat dimana setiap siswa merasakan ketegangan dan
kekhawatiran yang luar biasa. Karena nasib mereka lulus atau tidaknya dari sekolah
hanya ditentukan dengan waktu beberapa hari. Selama sekolah tiga tahun, hanya
tiga atau empat hari yang menentukan semuanya. Sistem pendidikan yang
menakutkan bagi para siswa.
Tia
berangkat dari rumah pukul enam pagi. Kala itu matahari tidak menampakkan
sinarnya. Padahal saat itu tubuh Tia sedang membutuhkan kehangatan karena sedang
dilanda ketegangan yang begitu kuat. Bagaimana tidak, beberapa hari ke depan
akan menjadi hari-hari berat bagi Tia.
Ya Allah, apakah aku bisa berhasil
melewati hari demi hari dalam menjalankan Ujian Nasional ini? Harapanku dan
kedua orang tua begitu besar agar dapat lulus dengan nilai yang terbaik. Cita-citaku
tinggi. Mimpiku begitu besar dan aku sangat ingin mengggapainya dengan segala
usahaku walau harus terjatuh dan terinjak dahulu. Ah, sungguh hidup ini begitu
banyak ujiannya agar dapat naik ke tinggat yang lebih tinggi. Tia merenung sejenak
setelah menyelesaikan lembar demi lembar soal ujian. Wajahnya begitu kusut karena
seharian otaknya dikuras untuk berpikir lebih dalam mengerjakan soal-soal UN
yang nampak begitu mudah namun menyulitkan.
Tia keluar ruangan ujian dengan
penuh harap dan doa. Ia yakin apa yang telah dikerjakannya akan membuahkan
hasil yang memuaskan karena persiapan untuk menjalankan ujian nasional sudah
dilakukan begitu lama.
===
Penantian untuk menerima surat
kelulusan akhirnya tiba juga. Seluruh siswa memenuhi kantor pos untuk mengambil
surat kelulusan. Suasana begitu riuh ramai. Beberapa terlihat siswa laki-laki
menerobos barisan siswa perempuan dan terlihat pula wajah-wajah yang tegang
serta harap-harap cemas ingin segera menerima surat.
“Ega, aku tegang. Takut.” Keluh Tia
pada salah satu teman baiknya. “Jangan tegang, beb, Insya Allah kita
pasti lulus.” Beb, adalah panggilan
kesayangan antara satu sama lain dalam sebuah ikatan persahabatan, sahabat yang
selalu menemani selama tiga tahun di SMA. Lia, Mega, dan Revianita. Mereka adalah
sahabat yang selalu memberikan semangat untuk terus bermimpi dan mereka juga
termasuk yang memaksa Tia untuk medaftar ke perguruan tinggi. Karena mereka
yakin dengan kemapuan Tia kalau ia mampu masuk ke tingkat yang lebih tinggi.
Bagaimana tidak, Tia merupakan siswa yang masuk dalam peringkat sepuluh besar di
kelas paralel jurusan IPA.
“Nanti antar aku ke Pak Mamang ya,
Ga?” Tia meminta bantuan kepada Mega. “Ada urusan apa kamu sama guru BP?” Mega
bertanya kembali. “Ini, mau minta PIN Bidikmisi yang waktu itu. Soalnya aku
lupa menyimpan.” Tia menjelaskan kepada sahabatnya. “Oh, baiklah.”
Saatnya
giliran Tia masuk ke dalam kantor pos untuk mengambil surat kelulusan. Wajah
Tia tegang ketika menerima surat tersebut. Perlahan dibukanya surat tersebut. Alhamdulillah. Rasa syukur yang
diucapkan oleh Tia kepada Tuhan yang selalu mengabulkan doa-doanya. Akhirnya aku lulus.
Tia dan Mega bergegas pergi ke
sekolah untuk mengabarkan berita baik ini kepada guru-gurunya sekaligus untuk
mengucapkan rasa terimakasih atas segala bimbingan yang dilakukan mereka selama
tiga tahun ini. Tidak hanya itu juga, Tia menemui guru BP untuk meminta PIN
Bidikmisi yang hilang itu.
===
Tia pulang ke rumah dengan Ayahnya.
Karena hampir selama enam tahun dari SMP hingga SMA Tia selalu diantar jemput
oleh Ayahnya. Tia memberikan kabar kepada Ibunya bahwa ia lulus.
“Bu, akhirnya aku lulus juga dari
SMA.” Tia memeluk Ibunya. “Alhamdulillah,
Nak. Ibu senang mendengarnya.” Ibu pun memeluk Tia dengan penuh kehangatan.
“Bu, nanti sore Tia mau pergi ke
warnet mau cek sesuatu dulu. Tapi diantar sama Adek saja ya, Bu.”
“Oh, iya boleh kok, Nak.”
Pukul tiga sore Tia dan Adiknya
berangkat menuju warnet. Ia tidak bilang kalau ia akan mengecek PIN Bidikmisi
yang ia dapat dari guru BP. Namun, setelah satengah jam berada di sana, Tia
penasaran dengan pengumuman SNMPTN Undangan yang ia ikuti. Ketika dicek
ternyata pengumumannya pukul lima sore hari ini. Hah? Pengumuman SNMPTN Undangan jam lima? Ya Allah, aku degdengan
sekali. Tia berbicara sendiri dalam hatinya.
“Dek, kamu pulang dulu saja ke
rumah. Teteh masih lama. Nanti jam
setengah enam bisa jemput lagi ke sini ya.” Tia menyuruh Adiknya untuk pulang
dulu. “Ya, Teh.” Adiknya menjawab. Teteh adalah sebutan bagi kakak
perempuan di daerah Sunda atau Jawa Barat.
Pengumuman
SNMPTN Undangan telah tiba. Tia dengan tangannya yang gemetar mencoba untuk
membuka pengumuman tersebut. Dengan membaca Bismillah,
Tia membukanya.
Bismillahirrahmaanirrahim...
Alhamdulillah,
Ya Allah. Ucapan syukur dan air mata Tia tidak dapat tertahankan lagi. semua
orang yang berada di sana kaget dan heran dengan sikap Tia. Mungkin mereka
berpikir, kenapa anak ini?. Rasanya Tia ingin menjerit sekencang-kencangnya.
Namun, sejenak ia tersadarkan kalau dirinya telah menjadi pusat perhatian orang
di sekitar warnet.
Tidak lama kemudian Adiknya datang
menjemput.
“Dek,
Alhamdulillah, Teteh diterima di IPB.” Tia mengabarkan Adiknya dengan mata yang
berlinang.
“Alhamdulillah. Ya sudah, kita pulang yuk, beri kabar Bapak sama Ibu.” Ajak
Adiknya. “Ya, Dek.”
Mereka segera pulang ke rumah untuk
memberikan kabar bahagia ini. Sepanjang perjalanan Tia tidak berhenti
meneteskan air mata haru dan bahagia. Betapa tidak, ini mimpinya, mimpi besar
yang ingin ia wujudkan. Mimpi yang selalu disebutkan dalam setiap doanya.
“Bu, aku diterima SNMPTN Undangan di
IPB.” Tia memeluk Ibunya yang sedang menyapu halaman. “Alhamdulillah. Tapi, kapan kamu mendaftar kuliah, Nak?” Ibu
bertanya tentang hal itu.
“Maafkan
Tia, Bu. Tia daftar diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu dan Bapak.”
“Ya
sudah, ayuk masuk dulu ke rumah. Beritahu Bapakmu tentang kabar ini. Sekarang
Bapak sedang di kamar mandi.”
Takut. Gelisah. Bagaimana tidak, hal
ini terjadi tanpa sepengetahuan Ayahnya. Bukankah Ayahnya menginginkan Tia
kerja di Bekasi?.
Tidak
lama kemudian Ayahnya keluar dari kamar mandi.
“Pak, Tia diterima di IPB tanpa
test.” Tia memberitahukan Ayahnya dengan meneteskan air mata.
“Sejak kapan kamu mendaftarkan diri
kuliah?” Ayahnya hanya memberikan respon yang datar-datar saja dengan
keberhasilan anaknya. Mungkin hatinya senang anaknya dapat diterima disalah
satu perguruan tinggi negeri, namun satu sisi ia khawatir dengan biaya yang
akan dikeluarkan nanti setelah masuk kuliah.
“Kenapa Bapak seperti tidak senang
Tia diterima kuliah?”
“Bagaimana dengan biaya kuliahnya
nanti, Tia?” Ayah menjawab dengan suara perlahan.
“Tia ikut mendaftarkan diri di
beasiswa Bidikmisi, Pak. Insya Allah
semua biaya kuliah ditanggung pemerintah dan juga Tia mendapatkan biaya hidup
sampai wisuda nanti.”
Terkadang sulit menerka hati dan
pikiran seorang Ayah. Sulit, sungguh sulit. Begitu rapat dan tertutup hingga
tidak mudah untuk menembus apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan olehnya.
Butuh waktu untuk memebak semua itu.
===
Besok akan dilaksanakan registrasi
pertama untuk calon mahasiswa baru. Sibuk. Ya, sibuk. Tia sibuk mempersiapan
berkas-berkas yang harus dibawa sebagai persyaratan agar tidak ada yang
tertinggal. Mempersiapkan berkas persyaratan untuk IPB dan juga ternyata untuk
mendapatkan beasiswa Bidikmisi masih harus dilakukan tahap wawancara. Takut.
Tegang. Itulah hal yang dirasakan Tia dan keluarga. Bagaiman tidak, mereka
sangat mengharapkan dapat menerima beasiswa tersebut. Tanpa beasiswa, Tia tidak
dapat melanjutkan untuk kuliah. Bapak masih dengan sikapnya yang biasa saja
terhadap keberhasilan anaknya.
Ibu Tia yang mengantarkan ke Bogor
sebagai perwakilan orang tua. Ayah Tia tidak dapat ikut karena harus bekerja
mencari nafkah untuk keluarga.
“Bu,
doakan Tia ya supaya diterima beasiswanya.” Tia meminta restu kepada Ibunya.
“Ibu selalu mendoakan yang terbaik buatmu, Nak.” Terlihat genangan air di mata
Ibu.
Selama satu hari Tia melakukan
registrasi dan wawancara. Lelah. Ya, lelah. Namun, lelah yang dirasakan olehnya
dapat tergantikan dengan kebahagiaannya ketika bisa menginjakkan kaki di kampus
yang akan menjadi tempat ia menimba ilmu untuk masa depan yang lebih indah.
Ibu Tia dan yang lainnya langsung
pulang menuju Subang. Tia dan teman yang lainnya menginap di Bogor untuk
menerima surat keputusan diterima atau tidaknya beasiswa yang diajukan.
===
Hari ini adalah waktu yang
dinantikan oleh Tia dan teman lainnya yang daftar beasiswa Bidikmisi. Pukul
satu tepatnya, mereka dikumpulkan di Gedung Graha Widya Wisuda untuk menerima
surat keputusan. Tegang. Ya, wajah-wajah teganglah yang terlihat di ruangan
tersebut. Para orang tua menunggu anak-anaknya di depan gedung.
Sudah
nampak beberapa calon penerima Bidikmisi mengambil surat yang berwarna kuning.
Ada yang keluar ruangan dengan wajah bahagia, tapi ada juga yang keluar ruangan
dengan wajah yang kecewa. Kini giliran Tia yang mengambil surat yang berwarna
kuning itu. Ya Allah, aku gemetaran.
Pernahkah
mendengar bahwa Tuhan tidak pernah tidak mengabulkan doa hamba-Nya? Ya. Inilah
jawaban Tuhan. Jawaban setiap doa yang dipanjatkan oleh makhluk yang lemah
tanpa daya, makhluk yang yang terus berusaha keras tanpa menyerah untuk
mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Alhamdulillah,
Ya Allah. Ucap Tia ketika membuka kertas yang berwarna kuning itu. Tia
menangis di depan gedung. Tia
akhirnya dapat kuliah di IPB tanpa biaya sedikitpun karena Tia diterima sebagai
peserta beasiswa Bidikmisi.
Bu, Pak, Alhamdulillah
Tia diterima beasiswa Bidikmisi. Terimaksih atas segala doa yang Ibu dan Bapak
berikan untuk Tia. Tia minta maaf jika waktu medaftar kuliah tanpa memberitahu
Ibu dan Bapak. Dikirimnya pesan singkat itu kepada
orangtuanya.
Alhamdulillah, Nak. Di
sini Ibu dan Bapak senang mendengar kabar tersebut. Tahukah anakku, Bapakmu di
sini menangis ketika mendapat kabar ini. Balasan pesan singkat
dari Ibu.
Awalnya
tidak pernah terpikirkan apa yang diinginkan dapat terwujud menjadi kenyataan. Mendaftarkan
diri ke Perguruan Tinggi Negeri yang terkenal dengan segudang prestasi dan
inovasinya hanya bermodalkan semangat dan tekad yang kuat merupakan sesuatu
yang mungkin ditertawakan oleh orang-orang di luar sana. Tapi kini, sudah enam semester Tia berada di
kampus rakyat, kampus hijau, kampus biodiversity, kampus yang penuh dengan
inspirasi dan prestasi.
Mimpi.
Cita-cita. Keinginan. Harapan. itu semua terwujud bukan tanpa kerja keras dan
doa. Jika mimpi ingin menjadi sebuah kenyataan, maka perjuangkan dengan tekad
dan semangat yang kuat. Ingin memetik bintang? Berjuanglah. Ketika bintang
telah terpetik dan berada dalam genggaman, maka jagalah agar bintang itu terus
bersinar terang.
***
Cerita
di atas merupakan kisah nyata dari mahasiswa yang berasal dari sebuah kampung
kecil di kaki gunung Tangkuban Parahu. Anak dari seorang tukang ojek yaitu
bernama Atin Sumiarti mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen angkatan 49. Walaupun
sudah tiga tahun lamanya kisah di atas telah dilalui, namun masih membekas
dalam hati dan pikiran ini. Sulit rasanya untuk terlupakan dan mungkin tidak
akan pernah dilupakan dan terlupakan meski waktu terus berlalu.
Tulisan
ini dipersembahkan untuk Bapak tercinta yang selalu memberikan semangat selama
empat semester. Kenapa empat semester? Ya, karena ketika memasuki semester
empat Bapak pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Bapak pulang terlebih
dahulu menemui Allah. Bapak selalu berkata “Anak
tukang ojek juga bisa jadi sarjana, jangan malu.” Itulah yang menjadi
motivasi untuk terus rajin belajar di kampus tercinta ini.
Terimakasih
Bidikmisi.....
Aduh, ngeri kali bintang mau dibawa ke bumi. kiamat dong, wqqwqw
BalasHapusSalam kenal, Kreta Amura
Waah baru kebuka satu tahun kemudian komentarnya. Terimakasih sudah mampir ke blog saya🙏
BalasHapus