Selasa, 23 Februari 2021

Hanya Butuh Satu

Salah satu naskah cerpen yang tidak lolos seleksi. Nyesek? Ah, biasa aja. Masih bisa dipost di sini kan? Soalnya yang lain naskahnya keren-keren.Yuk, ah belajar lagi.

======================================

 

            “Din, Mama mau cerai saja dengan Papamu!”

Sebuah kalimat yang sangat sakit untuk didengar oleh anak yang baru menginjak usia remaja. Dimana saat itu butuh sekali perhatian keluarga terutama orang tua agar tidak salah dalam memilih jalan hidup. Namun, harapan itu sirna tatkala seorang Ibu berkata seperti itu kepada anaknya. Ya, nama anak itu adalah Dinda.

***

            Saat pagi hari yang cerah, aku bersiap diri untuk pergi ke sekolah. Seperti biasa, Mama selalu menyiapkan sarapan agar aku kuat menjalani segala aktivitas di sekolah.

            “Din, jangan lupa sarapan, ya. Mama sudah siapkan di atas meja.” Mama berteriak dari depan kamarku.

            “Ya, Ma.” Aku langsung menuju meja makan untuk sarapan.

            Mama selalu sibuk setiap pagi. Membereskan rumah, menyuci baju, menyiapkan sarapan untuk anak-anak, dan mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Mama sumgguh hebat dalam pekerjaan rumah.

            “Ma, Papa tumben udah pergi kerja jam segini?” tanyaku.

            “Ya, Din. Papa ada keperluan mendadak katanya, jadi harus berangkat lebih pagi.”

            “Oh, gitu ya, Ma. Ya udah, Dinda berangkat sekolah dulu ya.”

Aku pergi ke sekolah dengan penuh suka cita. Aku selalu berusaha membuat diri ini bahagia di pagi hari karena susana hati dipagi hari adalah penentu susana hati sepanjang hari. Menjalani aktivitas di sekolah setiap hari tidaklah membosankan karena selalu ada hal baru yang dibuat oleh teman-teman. Membuat terasa nyaman jika berada di lingkaran mereka.

            Selama setengah hari di sekolah memang tak terasa. Apalagi kalau bebas dari tugas sekolah yang membuat hari menjadi sibuk. Ah, tak apa, namanya juga sekolah pasti benyak tugas yang mengampiri. Terima saja dengan senang hati.

            Ketika malam tiba, sudah menjadi kebiasaan keluargaku untuk berkumpul dan berbagi cerita dengan seluruh anggota. Apapun diceritakan, semua orang wajib bercerita dan mendengarkan atau terkadang saling memberi solusi dan jalan keluar jika terjadi suatu masalah. Seperti malam ini, pasti ada sesuatu yang terjadi. Biasanya Papa selalu ikut berumpul untuk bersama kami, tapi malam ini pemandangan cukup berbeda, Papa tidak ada di tengah-tengah kami.

            “Ma, Papa kemana? Kok jam segini tumben belum pulang?” pertanyaanku begitu saja keluar dari mulut ini.

            “Papa belum pulang, Din.” jawabnya singkat.

            “Dari pagi?”

            “Ya.”

Suasana hening seketika. Biasanya ada ritual saling bercerita di malam hari, saat ini sepertinya absen dulu rutinitas itu. Adik-adikku mulai masuk ke kamar untuk tidur terlebih dahulu. Tinggalah aku dan Mama di sana berdua.

“Din, ada yang mau Mama bicarakan?”

Deg. “Ya, Ma. Cerita saja. Apa ini tentang Papa?”

“Ya, betul. Sebenarnya kejadian seperti ini bukan hanya satu kali atau dua kali. Papamu jika ada masalah keluarga terutama keuangan, suka uring-uringan dengan Mama.”

“Trus, kali ini masalah keuangan itu terjadi lagi? Makanya Papa nggak pulang?”

“Ya, begitulah.” Mama menghela nafas, berat sungguh berat.

“Papa sekarang di mana? Di kantor?”

“Papamu sudah pulang tentunya. Dia pasti sedang di rumah nenekmu. Biasanya kalau ada masalah, dia pulang ke rumah orang tuanya. Mama udah lelah seperti ini. Mama mau cerai saja dengan Papamu, Din!”

“Apa, Ma? Nggak salah dengar nih aku, Ma?” aku kaget dengan perkataan Mama. Seperti disambar petir di siang hari. Orang tuaku terlihat baik-baik saja, ternyata mereka memiliki masalah yang cukup serius. Mungkin bukan hanya masalah itu, ada masalah besar yang tidak diceritakan kepadaku. Nggak mungkin hanya masalah keuangan dan sikap Papa membuat Mama berniat untuk cerai.

“Emang nggak bisa dibicarakan baik-baik, Ma?”

“Nggak bisa. Papamu udah sulit untuk diajak berkomunikasi.”

Hening, tidak ada percakapan lanjutan lagi diantara kami berdua. Mama langsung pamit masuk ke kamarnya, tinggal aku sendiri duduk termenung di atas sofa. Tiba-tiba Papa datang.

            “Eh, Din, belum tidur?”

            “Belum, Pa. Dinda nunggu Papa pulang.”

            “Loh, kok harus nunggu Papa pulang. Gimana kalau Papa nggak pulang?” sambil tersenyum.

            “Emang Papa ada niat untuk nggak pulang, gitu?” tanyaku penasaran.

            “Nggak ada kok, Papa pasti pulang ke rumah ini. Ya sudah kamu segera tidur, takut besok kesiangan bangun.”

            “Ya, Pa.”

            Kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat dengan sekelumit hal yang ada di pikiran kami. Aku berharap perceraian itu hanya wacana, Mama berkata seperti itu karena sedang tertekan dan emosional. Tidak serius.

***

            Hari demi hari dilewati dengan kedinginan setelah pembicaraan waktu malam itu. Suasana rumah menjadi beku dan kaku. Jarang ada tawa atau canda yang terlihat dari Papa dan Mama. Seakan semuanya menjadi berubah. Papa semakin sibuk dengan pekerjaanya hingga pulang selalu larut malam. Begitu juga dengan Mama, terkadang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Rumah ini seperti tidak memiliki ruh, kosong.

            Adik-adikku mungkin mereka menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka lebih memilih diam karena takut belum mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi kali ini. Benar-benar sungguh diluar prediksi. Terkadang aku melihat raut wajah penuh amarah dari dalam diri Papa. Aku takut, benar-benar takut karena jarang sekali melihat Papa marah. Jika Papa sedang marah, aku memilih untuk diam dan masuk ke dalam kamar.

            Bagaimana yang dirasakan jika kondisi rumah seperti ini? Penuh amarah, tekanan, tak ada kebahagiaan. Aku benar-benar merasa kacau dengan situasi seperti ini. Terkadang aku pun memilih untuk pergi keluar bersama teman-teman untuk menghindari kekacauan di rumah. Sejenak melupakannya dan bersenang-senang dengan teman. Aku sering melihat kondisi keluarga teman-temanku, mereka hidup di tengah keluarga yang bahagia. Orang tua mereka selalu rukun dan romantis di hadapan anak-anak. Kondisi ekonomi yang selalu stabil. Aku sungguh iri dengan semua itu. Beda dengan kehidupanku. Rasanya aku nggak ingin pulang ke rumah beberapa hari ini dan memutuskan untuk menginap di rumah temanku.

            “Din, memangnya orang tuamu nggak khawatir kamu nggak pulang beberapa hari?” tanya temanku, Nina.

            “Buat apa? Mereka lagi sedang ada masalah, mana mungkin ingat sama anak-anaknya.” Nina langsung memelukku.

            Saat ini pikiranku benar-benar kacau, rasanya ingin lari dan pergi jauh. Aku nggak mau melihat kondisi rumah yang begitu membeku. Jika saja memang terjadi perceraian diantara mereka, aku tidak akan memilih ikut ke siapa pun, aku akan bawa adik-adikku hidup secara mandiri dan terpisah dengan mereka. Kalau sudah begitu, hancurlah yang dinamakan keluarga.

            Ting. Sebuah pesan masuk ke ponselku. Oh, dari Mama itu.

            [Din, kamu di mana? Udah tiga hari ini nggak pulang? Adikmu Rio juga udah dua hari nggak di rumah. Kalian kenapa pergi seperti ini?]

            [Udah, Ma. Urus saja masalah Mama sama Papa, Dinda di rumah teman, sepertinya Rio juga sama.]

            [Kenapa?]

            [Kenapa apanya, Ma? Dinda hanya ingin istirahat sejenak dari kondisi rumah yang semakin parah].

Aku matikan ponsel dan segera tidur untuk melupakan semuanya.

            Selama satu minggu aku tinggal di rumah teman, sudah saatnya aku pulang ke rumah. Tak enak sama orang tua Nina jika aku berlama-lama di sana.

            “Makasih ya, tante, Nina, sudah mengizinkan Dinda tinggal di rumah ini. Semoga saja Dinda menjadi lebih baik setelah menghindar selama satu minggu di sini.”

            “Sama-sama, Din, yang sabar ya. Tante doakan masalahnya segera selesai.”

            “Ya, Din. Aku doakan yang terbaik juga ya. Kamu kuat.” Nina langsung memelukkudan bergantian dengan Mamanya.

            Sungguh, aku benar-benar tidak ingin kembali ke rumah dulu. Tapi, aku ingat dengan adikku yang terkecil, dia pasti kesepaian. Aku harus pulang dan menghadapi semuanya. Apapun yang terjadi, aku harus menerimanya dengan lapang dada. Jika mereka ingin bercerai dan membuat semuanya terlihat baik-baik saja, aku ikuti maunya. Aku harus kuat dan jangan cengeng. Aku pasti bisa menghadapi semuanya, sekalipun harus yang terburuk aku alami.

***

            Setelah beberapa hari pulang ke rumah, situasi masih sama seperti sebelumnya. Masih dingin dan beku. Aku banyak menghabiskan waktu di kamar adikku. Aku ingin menemaninya dan nggak mau mentalnya rusak akibat hal ini. Cukup aku saja yang terguncang hebat, adikku jangan. Ia masih terlalu kecil untuk memahami semuanya. Untuk Rio, dia sudah mengerti apa yang sedang terjadi di rumah ini.

            Malam ini Papa sudah ada di rumah, tidak seperti biasanya yang pulang larut malam. Kami seluruh anggota keluarga dipanggil untuk berkumpul di ruang tengah seperti malam-malam terdahulu.

            “Sini duduk.” Di sana sudah terlihat Papa dan Mama. Pikiranku sudah benar-benar kosong dan aku pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depannya.

            “Sudah lengkap? Baik, Papa mau meminta maaf terlebih dahulu karena sudah membuat kekacauan di rumah ini.”

Semuanya diam tak ada yang bergeming. Susana yang dingin dan kaku.

            “Papa tahu ini salah dan maafkan sikap kekanakan Papa. Kalau bukan karena Papa, semuanya tidak akan pernah terjadi.”

            “Jadi, Papa sama Mama sudah yakin untuk berpisah?” tiba-tiba saja aku berbicara seperti itu.

            “Tunggu sebentar. Ada beberapa hal yang ingin Papa ceritakan dulu mengenai masalah ini. Sebenarnya…”

            Papa berbicara panjang lebar mengenai masalah ini. Banyak hal yang tidak aku ketahui sebanarnya. Aku hanyalah seorang remaja yang ketakutan untuk melihat orang tua berpisah, maka dari itu aku diam dan banyak menghindar dari mereka. Aku hanya takut keluarga ini hancur berantakan.

            “Jadi, sekarang sudah paham kan semuanya?”

            “Ya, Pa. Sekarang Dinda paham, dulu takut banget pas Mama bilang ingin bercerai.”

            “Papa tahu, perempuan sering kali mengambil keputusan saat emosi negatif menguasai. Makanya Papa sering kali untuk menghindar. Ternyata salah, semuanya perlu komunkasi dan berbicara dengan baik. Sekarang masalahnya sudah selesai dan Papa tidak akan bercerai dengan Mama.”

            “Serius, Pa?”

            “Ya, dong.”

            “Ma?”

            “Ya.”

            Malam yang sangat diluar dugaan. Padahal aku sudah mempersiapkan diri dan hati sekuat mungkin. Takut jika keputusan itu terjadi, namun malah sebaliknya. Dugaanku jauh melesat ke atas sana. Papa dan Mama tidak jadi bercerai. Satu hal yang bisa aku ambil pelajaran dari peristiwa ini, yaitu komunikasi. Komunikasi itu sangatlah penting dalam suatu keluarga. Jika komunikasinya buruk, akan membuat kondisi semakin parah.

            Keluarga ini kembali menghangat seperti semula. Rumah yang sebelumnya terasa kosong, beku dan dingin ini kembali bersemi. Semuanya berjalan baik-baik saja. Jika terjadi masalah, kami komunikasikan dengan baik, terutama Papa dan Mama. Kejadian akhir-akhir ini tidak ingin terulang lagi. Aku menjalani hari-hari dengan suka cita, walau terkadang sesekali peristiwa lalu menghantui pikiranku. Namun, perlahan aku hapus ingatan buruk itu dengan kembali membangun kehangatan bersama keluarga.

 

**Selesai**

 

Komunikasi adalah akar. Jika akar telah rusak, maka rusaklah seluruh bagian pohon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar